Archive for the 'Kisah Nyata' Category

Klinik S.E.R.V.O

Kecanduan Game ?

  

Saat buah hati Anda tidak naik kelas, apakah Anda akan marah hebat kepadanya dan berkata “Kamu tidak bodoh, hanya kurang serius belajar.”

Sudahkah Anda bertanya kepadanya apakah ia memiliki masalah dan sudahkah Anda menawarkan bantuan atau setidaknya menyediakan waktu untuk mendengarkan perasaannya ? Kisah nyata berikut kiranya menjadi pengalaman berharga bagi orang tua yang memiliki remaja bermasalah.

Suatu ketika datang seorang ibu (single parent karena suami meninggal) dan anak remajanya ke Klinik Servo, mengeluh saat ini putranya sudah berhenti kuliah selama enam bulan dan terjebak dalam kecanduan game. Ybs. merasa tidak berdaya untuk lepas dari kebiasaan buruk tersebut, bahkan semakin lama semakin parah.

Pada konsultasi pertama ybs. di duga “marah” kepada sang Ibu karena merasa sang Ibu tidak menepati janji saat dirinya telah menyelesaikan tugas yang diinginkan sang Ibu. Namun setelah dilakukan kalibrasi ulang, ternyata perasaan cemas tetap muncul.

Saat dilakukan penelusuran ulang, ditemukan bahwa keengganan menyelesaikan kuliah dan kecanduan game hanyalah sebuah bentuk protes terselubung kepada sang Ibu, karena pernah memarahi dirinya saat ybs. tidak naik di kelas 1 SMA, padahal hal tersebut disebabkan oleh rasa sedih yang sangat mendalam (depresi) saat dirinya kehilangan ayahanda tercinta.

Setelah dilakukan terapi SERVO, Alhamdulillah ybs. telah dapat memahami ulang dan kecanduan game nya dilaporkan telah hilang dan yang sangat membahagiakan tentunya, ybs. berencana kembali kuliah pada smester mendatang.

Alhamdulillah !

Ingin Menolong Remaja Anda ?   Telpon Kami !  

Klinik S.E.R.V.O

Fobia sang Profesor ?

  

Fobia tidak mengenal tinggi rendah pendidikan bahkan seorang profesor di bidang Kesehatan sekalipun !

Suatu ketika datang ke Klinik SERVO, seorang profesor di bidang Kesehatan dari salah satu Universitas ternama di Indonesia yang mempunyai fobia gampang merasa cemas, jika berada di keramaian (agoraphobia), hal tersebut mengakibatkan ybs. selalu menghindar jika harus tampil di muka umum.

Padahal sebagai seorang professor di bidang medis ybs. sering diminta untuk tampil di depan forum terhormat ataupun saat memberikan materi kuliah dan hal tsb. tentu saja mengganggu kehidupan sosial ataupun pekerjaan ybs.

Anehnya, fobia tersebut baru dirasakan sangat mengganggu setelah ybs. berusia 55 tahun. Hal tersebut memang sudah dirasakan sejak remaja, namun hal tersebut masih dapat di “lawan” sehingga ybs. berfikir hal tersebut akan hilang dengan sendirinya dikemudian hari.

Sewaktu dilakukan penelusuran ke masa lalu, ditemukan akar masalahnya yaitu pernah mengalami “hypoxia” yaitu suatu keadaan kekurangan oksigen. Pada waktu masih kecil yang bersangkutan pernah diajak jalan jalan ke sebuah pasar malam peringatan acara keagamaan dimana ybs. sempat terlepas dari gandengan orang tua dan terjebak dalam kerumunan.

Setelah dilakukan kalibrasi ulang, dilaporkan keluhan cemas, berdebar debar dan sesak nafas saat akan memulai dan selama presentasi telah hilang dan dapat menjalani proses presentasi dengan menyenangkan.

Selamat menikmati tampil di forum Prof. !

Ingin Tampil Percaya Diri ?   Telpon Kami !  

Klinik S.E.R.V.O

Sang Kandidat Doktor ?

  

Rudi (nama samaran) adalah seorang pria yang sangat beruntung, sejak kecil ia selalu berhasil mendapatkan semua yang diinginkan.

Berasal dari keluarga pengusaha sekaligus politikus, memiliki kecerdasan (IQ) dalam kategori genius, memiliki posisi yang baik di pemerintahan dan saat ini sebagai kandidat doktor termuda di angkatannya.

Datang ke klinik SERVO dengan keluhan terjadi penurunan motivasi yang sangat drastis, justru di saat saat akhir penyelesaian tesis doktoralnya dan sebagai pelarian terjebak pada kecanduan game

Sering timbul ide untuk tidak menyelesaikan tesis doktoralnya sekalipun memiliki nilai IP akumulatif mendekati 4 (hampir semua nilai A).

Kegelisahan bermula saat posisi strategis yang pernah di janjikan atasannya yang juga menjadi alasan ybs. mengambil jenjang doktoral tiba tiba telah di isi oleh orang lain. 

Kebiasaan selalu mendapatkan apapun yang diinginkan sejak kecil, ternyata tidak ”bekerja” secara terus menerus. Hal tersebut membuat dirinya merasa frustrasi dan sia sia untuk menyelesaikan jenjang doktoralnya.

Saat dilakukan penelusuran ke masa lalu ditemukan penyebabnya adalah rasa bersalah (berupa perasaan tidak berguna) kepada keluarga karena saat sang ayah menghadapi krisis di perusahaannya, justru yang  tampil membela keluarga justru sang Adik tercinta, bukan dirinya.

Setelah dilakukan terapi, Alhamdulillah ybs. melaporkan telah dapat menyelesaikan tahapan akhir tesisnya dengan baik.

Selamat buat bung Rudi !

Ingin Cepat Berubah ?   Telpon Kami !  

Klinik S.E.R.V.O

Rindu Diomelin ?

  

Suatu pagi, saya sedang melakukan terapi jarak jauh (melalui telpon) kepada salah seorang klien saya yang sedang mengalami problem kecemasan.

Lagi asyik asyiknya proses terapi berjalan, tiba tiba saya mendengar suara wanita yang sedang marah marah di belakang suara klien saya. Pada awalnya saya berpikir sedang ada konflik antara klien saya dengan pasangannya dan karena hal tersebut bersifat sangat pribadi maka saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga tersebut.

Hal tersebut berlangsung singkat dan klien saya kembali melanjutkan pembicaraannya dengan saya. Tidak lama kemudian terdengar lagi suara wanita yang sama sambil marah marah dan kali ini ybs. menjawabnya persis seperti sedang menjawab pertanyaan melalui HP.

Karena mulai terasa mengganggu, saya menanyakan :”Ma’af, tadi yang marah marah siapa ?” Oleh klien saya dijawab :”Ooh…. itu suara ring tone HP saya yang satunya dan sambungan tersebut berasal dari istri saya.”

Dari peristiwa tersebut saya justru mendapat ide untuk menelusuri riwayat kecemasannya, lebih jauh. Apakah istri Anda sehari hari suka marah marah dan apakah ibu Anda dulunya juga demikian ? Diperoleh jawaban bahwa pada waktu kecil, ybs. sering merasa malu jika ibunya marah marah, karena hampir orang sekampung mengetahuinya.

Rupanya tanpa disadari ybs. melakukan reaksi pembalikan (reversal) dengan mengubah status ego dari aktif menjadi pasif, mengubah keinginan perasaan dan impuls yang menimbulkan kecemasan menjadi ke arah diri sendiri (turning upon around self) atau seperti reaksi formasi dengan obyek yang spesifik (pada reaksi formasi perasaan yang dibalik di generalisasikan kepada objek yang luas). Sehingga benci kepada ibu yang pemarah, dibalik menjadi benci kepada diri sendiri atau dibalik menjadi rindu diomelin sang ibu.

Selanjutnya hal tersebut justru diperluas dengan perasaan tenang jika sudah dimarahin oleh sang istri ataupun orang lain dan bisa jadi hal tersebut dirasa kurang intens, sehingga dirasa perlu menambahkannya dengan nada dering suara wanita yang sedang marah marah di HP.   

Setelah diminta untuk membuang nada dering tersebut serta dilakukan kalibrasi ulang terhadap peristiwa memalukan saat dimarahi oleh sang Ibu, Alhamdulillah ybs. sekarang merasa lega.   

Ingin Cepat Berubah ?   Telpon Kami !  

Klinik S.E.R.V.O

Tidak Ada Hal yang Sia Sia !

  

Alhamdulillah, sungguh terdengar sangat indah saat mendengar langsung dari Haryo (nama samaran) seorang klien Klinik S.E.R.V.O tentang perubahan yang telah dicapai dirinya.

Dengan penuh antusias ybs. bercerita bahwa saat ini ia telah memiliki murid mengaji 12 orang, mampu mengatasi murid mengaji yang ”sulit” (sudah ditangani oleh 2 guru ngaji sebelumnya dan gagal), pernah diminta menjadi MC di sebuah perhelatan besar dan sangat diterima dan dihormati oleh masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. 

Ybs. merasa sulit untuk percaya bahkan berulangkali tercetus :”Pak, mengapa mereka begitu menghargai dan menghormati saya ya ? Mengapa mereka sama sekali tidak peduli dengan masa lalu saya yang pernah dianggap “gila” ?

Memang hal tersebut sangat berbeda dengan keadaan 3 bulan lalu saat ybs. mendatangi klinik S.E.R.V.O dengan keluhan mengalami depresi berat. Ybs. merasa sangat tertekan, mengalami ketegangan saraf, sulit konsentrasi, pelupa, terutama setelah mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan yaitu batal menikah, gara gara pihak keluarga pasangannya mengetahui ybs. pernah mengalami stress dan yang sangat sulit untuk dimaafkan adalah pembatalan pernikahan datang justru dari pihak yang dulunya menjodoh jodohkan mereka.

Ybs. sudah merasa sangat lelah dan hampir putus asa karena berbagai upaya penyembuhan telah dilakukan mulai dari paranormal, rohaniawan, hipnoterapi, psikolog hingga psikiater namun hal tersebut tidak membawa hasil bahkan mulai berpikir dirinya telah ”cacat” sehingga tidak mungkin lagi disembuhkan. 

Walaupun sempat dibayang bayangi keraguan, namun saat disampaikan bahwa “Selama kita masih bisa berpikir ada yang tidak beres dalam diri kita hal tsb. menunjukkan kita masih NORMAL”, timbul secercah harapan yang terlihat dari wajahnya. 

Dari cara bertutur yang terstruktur terlihat ybs. memiliki tingkat intelektual yang sangat baik, cerdas, multi talent dan yang sangat menggembirakan adalah adanya keinginan berubah yang sangat kuat dari dalam diri yang bersangkutan.

Saat dilakukan penelusuran masalah ke masa lalu ditemukan penyebabnya adalah sifat sombong saat masih kecil, karena merasa diri selalu lebih baik, lebih hebat dari teman lainnya dan berujung pada di keroyoknya ybs. oleh teman teman mainnya karena merasa dilecehkan. Semenjak peristiwa tsb. ybs. sering mengalami gangguan emosional seperti mudah cemas, panik, takut, terus berlanjut hingga dewasa dan klimaksnya pada peristiwa batalnya pernikahan.

Setelah dilakukan pemetaan masalah dan dilakukan beberapa kali terapi, Alhamdulillah ybs. telah dapat melihat akar masalahnya secara lebih jernih dan bersedia berdamai dengan masa lalunya bahkan menjadi pelajaran berharga saat menaklukkan murid mengajinya yang bandel luar biasa.

Memang betul tidak ada hal yang sia sia, sekalipun dari peristiwa terburuk, bagi yang dapat memetik hikmah.

Ingin Cepat Berubah ? sTelpon Kami !s

Klinik S.E.R.V.O

Bias Orientasi Seksual ?

  

Datang ke Klinik SERVO Bayu (samaran) 31 tahun, seorang wiraswasta yang mengalami kebingungan dengan orientasi seksualnya. Di satu sisi ybs. memiliki rencana untuk menikah dengan lawan jenisnya namun secara bersamaan ybs. masih terus dibayang bayangi oleh orientasi seksual sejenisnya.

Peristiwa terakhir yang dirasakan sangat mengganggu adalah saat pasangan sejenisnya yang juga merupakan karyawannya berniat mengundurkan diri dan pindah kerja ke salah satu pesaingnya, Bayu merasa sangat cemburu dan dikhianati karena merasa telah memberinya pekerjaan dan banyak perhatian. 

Saat wawancara terungkap, walaupun aktifitas seksual dengan pasangan sejenis dilakukan, namun ybs. mengaku tidak terlalu menikmatinya. Hal tersebut dimaksudkan hanya untuk menyenangkan hati pasangannya, demikian pula dengan banjir fasilitas ataupun hadiah agar ybs. tetap setia dan loyal kepada dirinya.

Sewaktu dilakukan penelusuran terhadap pengalaman seksual sejenisnya, terungkap bahwa telah terjadi kontak fisik sejenis yang dilakukan oleh kakak kelasnya, tidak lama berselang setelah ybs. kehilangan sahabat satu satunya sewaktu kecil akibat direbut oleh teman saingannya.

Setelah dilakukan terapi terhadap orientasi seksual sejenisnya, memang perasaan suka sejenisnya dapat hilang, namun perasaan cemburu terhadap karyawan tersebut tersebut tetap masih ada.

Pada terapi selanjutnya terungkap bahwa rasa cemburu tersebut merupakan projeksi ketidak relaan atas kehilangan sahabat satu satunya pada waktu kecil apalagi ybs. merasa memiliki hambatan komunikasi dengan teman lainnya. Hanya bedanya sekarang disertai perasaan sakit hati karena merasa telah memberi banyak kenikmatan berupa hadiah, fasilitas bahkan seksual kepada karyawan tersebut.

Dengan demikian pengalaman seksual sejenis tsb. hanyalah peristiwa ikutan walaupun di kemudian hari menimbulkan bias dalam orientasi seksual ybs.  karena dalam situasi sedih akibat kehilangan satu satunya sahabat, muncul orang ketiga yang tampil seolah sebagai pelindung dan pengganti sahabat yang benar benar setia namun ternyata memiliki motif terselubung atau dengan kata lain ybs. telah dimanipulasi secara seksual.

Sewaktu dilakukan pencerminan ulang atas peristiwa tersebut ybs. baru menyadari bahwa kini dirinya yang melakukan manipulasi emosional hanya bedanya kali ini tidak dalam masalah seksual melainkan dalam bentuk hubungan atasan bawahan. 

Setelah dilakukan penataan hati ulang, akhirnya ybs. dapat ”melepaskan” karyawan tersebut dan mantap untuk menikah tanpa lagi harus di bayang bayangi dengan masalah orientasi seksual sejenisnya.

Ingin Cepat Berubah ? KLIK Aja >> sHelp Me !s

Next »